Bumi bersedia menunjukkan kesegarannya tepat waktunya... pagi.
Dedaunan kering pun bukan hal remeh semata... dia adalah kehidupan yang basah.
Dan seperti cacing-cacing yang menggeliat kuat disetiap penghujung musim kemarau menyambut lembab hujan, semut dan laron memapah sejuk malam mengelilingi pijar lilin di tiap gubuk-gubuk reyot ditengah huma yang kini hangat... canda tawa.
Itu yang kusuka dari hujan, yang kini jarang menyapa..
Friday, September 21, 2012
Hujan
Di Publikasikan
Jon Moekidi
pada
Friday, September 21, 2012
Advertisement
Advertisement
Tags :
Sajak
Related : Hujan
Menunggu Kau yang Dulukenangan akanmu, menjauh. dan asa, melepuh. menunggu waktu, untuk menunggu. ber-rotasi, melumpuhkan inti syaraf kognitif. terabai, menatap dunia bercengkrama. menyepi, b ...
Demi CintaLihat, debu halus di jalan pinggir pantai. Kini melekat di tubuhku. Menambah tebal daki di dahi. Bercampur keringat yang mengucur. Ini demi istri ...
Lara yang Sepi sang Penyairkawan penyair adalah malam. gurat halus sang rembulan penghibur laranya. dan riuh belalang di petak sawah adalah kawan diskusi yang jujur dan tak terkalahkan baginya. da ...
Damai Senja di Pelukan Simfoni JanjiKetika sore berbalut langit senja, ada awan jingga mengukir wajahmu. Ketika samudra biru mulai merona, ada buih yang menggulung hasratku. Itu semilir angin tepian panta ...
GERIMIS APRIL SURABAYAhujan, itu ingatan. gerimis, itu kenangan. seperti epos tak tergantikan. ini tentangmu, yg pernah berbagi ranjang dan rantang yang sama. ...
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 komentar:
Post a Comment