Mataku, mata nyalang yang mengawasi rerimbunan semak belukar setinggi dada. Mataku tak pernah terpejam kala malam. Mataku mata lelah yang sama. Mataku adalah mata tajam. Mataku adalah mata.
Di samar lampu jalan desa yang di pasang hampir 10 tahun yang lalu, kulihat ada gerak perlahan di semak-semak yang hampir kering karena hujan sudah tak menetes hampir dua bulan. Kudekati, barangkali ada seseorang yang bisa kumintai bantuan, ternyata cuma anjing.
Aku kembali ke tempat awal 'ku berdiri, sendiri. Diam, sediam hening hutan jati yang kutempati. Kembali menunggu seseorang atau sesuatu yang melintas di belukar seberang jalan desa. Hingga pagi kemudian siang.
Dengan gerakan lelah yang anggun, aku menggeliat. mencoba meregangkan otot-ototku yang hampir hilang. Tulangku berderit, seakan protes karena kurang asupan, kasihan. Aku berhenti menggeliat ditangah-tengah karena kumenyadari sesuatu yang tiba-tiba melintas di benakku. Sumur, ya sumur di seberang jalan itu. di balik rimbun belukar yang setinggi dada itu.
Kucium ketiak-ku, apak. kujilat sedikit, hmm.. asin. Sudah berapa minggu aku tak mandi? Aku bangkit lagi, dengan agak malas. Ini siang yang panas. Ku lirik matahari, dia tak perduli, tersenyum sinis malahan. Gontai ku berjalan menyeberang jalan desa berdebu yang khas. menerobos semak belukar yang gatalnya membuat badanku lebih gatal dari sebelumnya.
Kulihat sumur itu, sumur tua peninggalan belanda. Kumendekat penuh minat. Aku akan mandi, dan membersihkan diri untuk hari ini. Tersenyum simpul sendiri, seperti orang gila yang kutemui seminggu yang lalu. Setidaknya aku tidak gila. Dan satu lagi, mataku mata nyalang yang tak pernah terpejam.
Saturday, July 28, 2012
Mataku Mata Nyalang
Di Publikasikan
Jon Moekidi
pada
Saturday, July 28, 2012
Advertisement
Advertisement
Related : Mataku Mata Nyalang
Cinta yang LainSatu yang seribu. tak sebanding denganmu, ibu. Dalam diam bibirmu berjuta do'a tertabur untukku, anakmu. Dalam pandang sayu itu, tersirat kasih yang tak pernah la ...
Wangi SembojaWangi bumi, berbaur wangi semboja. Di pekarangan yang ku diami, tanpa sengaja. Maafkan aku kekasih, tak mampu lagi kutiduri tubuhmu. Jasadku kini terbungkus kain puti ...
Cinta HeningSehening subuh yg lebih banyak terlewatkan. Dan kecewa melanda kala mata terbuka, jika matahari sudah meninggi. Seperti itulah cinta, ketika kita tahu bahwa cinta yang ...
Antara Mimpi dan Ilusitanpa rasa dan tak berpangkal asa. mengalir pelan dan meresap perlahan. menyelusup menyentuh inti dan muncul di kemudian hari. menjadi sari dan energi. sebagian adalah h ...
Lara yang Sepi sang Penyairkawan penyair adalah malam. gurat halus sang rembulan penghibur laranya. dan riuh belalang di petak sawah adalah kawan diskusi yang jujur dan tak terkalahkan baginya. da ...
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 komentar:
Post a Comment