Setiap inchi daratan adalah pentas tarian cintaMu. Setiap kubik lautan adalah tinta 'tuk tuliskan syair untukMu. Dan sehelai nyawaku sebagai pengikatMu.

Thursday, September 26, 2013

Marahlah, Jangan Membisu

Advertisement


sepaginya malam setelah berhenti menggeliat
tak kulihat cinta di matamu
mewarna terang setelah subuh menghilang
masih tak kulihat cinta di jarimu

jaddah mana berandal apa
hingga kapasku hitam termakan dusta
salah siapa derita apa
sampai bisumu memerah darah

sudi tak sudi aku sudi
cinta tak cinta hasratku membara
seperti siangku membakar jiwa
seperti api mengulum raga

bicaralah, agar kutahu maumu
marahlah, supaya kumengerti
dan nanti malam kita bisa bermain ayunan lagi

Advertisement
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Marahlah, Jangan Membisu

  • Mataku Mata NyalangMataku, mata nyalang yang mengawasi rerimbunan semak belukar setinggi dada. Mataku tak pernah terpejam kala malam. Mataku mata lelah yang sama. Mataku adalah mata tajam. ...
  • Sepertiga Malam yang TerakhirIlustrasi: menarilah, tak layak engkau termangu. ini hari telah berganti, pagi. syairku puisi waktu. ritmeku bisu waktu. beku tak bernafas, berontak pilu. pasrah, ter ...
  • Surga BagikuSurga, bagiku seperti tepian sungai dengan batu batu legam bulat kecil berkawan bening, ada kamu.Surga, bagiku seperti hujan rintik dini hari, ada hangat tubuhmu.Surga, ...
  • Aku Lebih Suka Sendiri, Mengamati kesepian adalah janji. sepeti awan yang mengarak. seperti pagi yang semarak. hening tapi selalu bergerak. datang, pergi lagi... bukan hati yang berbohong. bukan mata y ...
  • Hangat banyak bilang terlalu banyak. sedikit bilang terlalu sedikit. kita cuma berdua. matikan saja perapian di tengah. biar gelap gulita. dan kita tidur... di kasur. ...

0 komentar:

Post a Comment